Books By Publisher Nawas


Categories

Publishers

Cover Bukan Insinyur, Bukan Ilmuwan Nawas
See Detail

Bukan Insinyur, Bukan Ilmuwan

Sukendra Martha


Price
Rp 28,000,-
Synopsis

ENDORSEMENT

“Humor dan kreativitas bagi ilmuwan, ibarat pupuk dan benih untuk para petani. Sama-sama merupakan ke­niscayaan. Kalau dunia yang diubah oleh ilmuwan melalui ide dan invensi yang kemudian masuk ke dalam ke­hidupan praktis berbentuk inovasi itu tidak dibumbui humor, maka kehidupan ilmuwan atau bah­kan dunia itu sendiri akan kering kerontang. Karenanya, buku tipis ini akan menjadi serbuk mesiu yang membakar parailmu­wan untuk semakin kreatif. Semoga!”  —Drs. Suharna Surapranata MT, Menteri Riset dan Teknologi RI

“Membaca buku ini segera membangkitkan rasa geli sejak dari halaman pertama, karena isinya mengingatkan kita akan hal-hal lucu dalam keseharian profesi insinyur atau ilmuwan. Penulis sangat jeli dalam menuangkan humor ke dalam tulisan yang ringan dan segar—sebagiannya merupakan ironi—yang selama ini sering menjadi bahan bercanda di antara para pe­rekayasa dan peneliti. Saya sampaikan apresiasi kepada penulis yang telah memperkaya khasanah perpustakaan me­lalui buku yang menarik ini. Selamat membaca....!” —Dr. Ir. Marzan A. Iskandar, M.Sc., Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

“Peneliti terkesan serius, kutu buku, berkacamata tebal dan ber­sikap kaku acuh tak acuh. Karya tulisnya pun selalu berupa hal-hal ilmiah yang terkadang susah dipahami masyarakat awam. Buku ini menyajikan sisi lain dari peneliti yakni catatan ten­tang kelakar para peneliti yang menggelitik dan menghibur, se­hingga tidak lagi terkesan peneliti itu kaku dan serius. Selamat pada penulis dan semoga para pembaca terhibur!”—Dr. Asep Karsidi MSc, Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)

 

 

PENULIS

Sukendra Martha, dilahirkan di desa Prajawinangun (dulu Srombyong), Gegesik, Cirebon pada 12 September 1954. Aktif menulis sejak mahasiswa dan terutama saat menjadi peneliti Geografi BAKOSURTANAL (1992–2000). Pendidikan formal akademiknya dijalaninya mulai dari Bachelor of Science (BSc.) dalam Bidang Geo- grafi dari Fakultas Geografi UGM (1975), Doktorandus (Drs.) Geografi, Jurusan Kartografi pada universitas yang sama (1979). Master of Science (MSc.) di Oklahoma State University, Department of Geography, Stillwater, USA(1984), dan Master of Applied Science (MAppSc.) dalam Bidang Remote Sensing/Geography dari School of Geography, UNSW, Sydney Australia (1992). Buku yang pernah ditulis: Pendekatan Geografi untuk Pembangunan (Mengenang Prof. Kardono Darmoyuwono): (Editor), IGEGAMA- BAKOSURTANAL, Cibinong, 2000; Geografi Islam dan Geografiwan Muslim , LP2S Panji Wirama, Yogyakarta, 1994; Buku Kenangan Pengabdian Alm. Mayjen Ir. Pranoto Asmoro (Editor), dua jilid, BAKOSURTANAL, 2002; 100 Anekdot Ubudiyah (Pustaka Pesantren/LKIS Yogyakarta, 2005); Peneliti Membanyol (Penerbit Buku Ilmiah Populer, Bogor, 2005); dan Humor ala Ilmuwan (Penerbit Buku Ilmiah Populer, Bogor, 2007).

Dua buku barunya diterbitkan pada 2009: Peta Kamasurta, Penerbit Nawas (Kelompok Pustaka Alvabet), dan Haji Tamatu: Tangi Mangan Turu, Alifia (Kelompok Pustaka Alvabet). Aktif di berbagai organisasi profesi dan keagamaan. Dalam organisasi profesi di bidangnya antara lain: pernah menjadi Sekretaris I Ikatan Geograf Indonesia (IGI), dan Ketua Umum Ikatan Geografiwan Universitas Gadjah Mada (IGEGAMA) 2003–2007, Ketua Umum Asosiasi Kartografi Indonesia (AKI) 2003–2005. Dalam organisasi kemahasiswaan dan keagamaan, antara lain pernah sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA) Cabang New South Wales, pernah sebagai Vice President - Muslim Student Association (MSA) sewaktu belajar di UNSW, Australia, dan pernah aktif dalam organisasi keagamaan masyarakat Indonesia di Australia: Centre for Islamic Dakwah and Education (CIDE). Sampai saat ini masih menjadi Pengajar Tidak Tetap pada Program Studi Pendidikan Geografi FKIS, Universitas Muhammadiyah ‘Prof. Dr. HAMKA’, Jakarta. Sekarang, suami Retno Indro Estuti dan ayah dari Layung Paramesti, Lalita Paraduhita dan Tawang Amuhara ini masih aktif bekerja di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), yang berkantor di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

 

Read More
Cover GER-GERAN BERSAMA GUS DUR Nawas
See Detail

GER-GERAN BERSAMA GUS DUR

Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan (Penyunting)


Price
Rp 29,800,-
Synopsis

SINOPSIS

Gus Dur telah tiada. Tapi kalau Anda masih juga tak percaya bahwa kelakar-kelakarnya sangat cerdas dan lucu, caba baca petikan ini:

Di depan Kanselir Jerman Helmut Schmidt, Gus Dur bercerita tentang rabbi Yahudi.

“Rabbi itu sudah berumur 85 tahun, dan dia sangat kecewa. Maka mengadulah dia pada Tuhannya. ‘Tuhan, saya sudah

5 tahun mengabdi pada-Mu, sejak usiaku 20 tahun. Tapi setelah mengabdi begini lama, mengapa Engkau mengecewakanku? Mengapa Engkau biarkan anakku masuk Kristen? Tuhan, saya sungguh kecewa.’

“Lalu Tuhan menjawab: ‘Sama, anak saya juga masuk Kristen….’”

Atau, yang ini dech:

Seorang pendeta Hindu, seorang pastur Katolik, dan seorang kiai terlibat diskusi soal siapa yang paling dekat dengan Tuhan.

“Kami, dong!,” kata pendeta Hindu.

“Kok kalian bisa merasa paling dekat dengan Tuhan?” tanya si kiai.“Lha, iya. Lihat saja, kami memanggil-Nya saja Om,” jawab yang ditanya, merujuk seruan religius Hindu: Om, shanti, shanti, Om.

“Oh, kalau alasannya itu, kami dong yang lebih dekat,” sergah si pastur Katolik. “Lihat saja, kami memanggil-Nya Bapa. Bapa kami yang ada di surga...”

Sang kiai diam saja. Lalu kedua teman bicaranya bertanya, “Kalau Pak Kiai, sedekat apa hubungannya dengan Tuhan?”

“Duh, boro-boro dekat,” jawabnya. “Manggil-Nya aja dari menara, teriak-teriak lagi!”

Gerrrrr…!!! Kalau Anda tetap bilang guyonan Gus Dur nggak lucu, ya terserah! Gitu aja kok repot…!!!

Read More
Cover Gus Dur Menertawakan NU Nawas
See Detail

Gus Dur Menertawakan NU

Islahuddin (Pengumpul Naskah)


Price
Rp 27,500,-
Synopsis

SINOPSIS

Gus Dur menertawakan NU? Ah, yang bennneeer? Masa iya sih? Bukankah dia seorang kyai? Keturunan pendiri NU dan mantan Ketua Umum PB NU lagi! Nggak mungkin deh dia merendahkan “diri sendiri”!

Eiiit… jangan salah paham dulu donk! Menertawakan bukan berarti menghina loh…! Makanya jangan suka memahami kata secara harfiah! Gus Dur Menertawakan NU adalah buku kumpulan humor tentang NU, kyai dan pesantren, serta Islam dan agama. Jadi, dijamin seribu persen deh NU nggak bakal terlecehkan.

Meskipun Gus Dur—semasa hidupnya tentu saja—menjadikan organisasi kaum nahdliyin ini sebagai bahan kelakar, dia pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon bin guyonan kok. Nggak percaya? Tanya aja langsung si Empunya humor yang sudah almarhum! Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa yang berani protes, hayo…! Jadi ketimbang memprotes judulnya, mendingan nikmati aja lucunya…!!!

Read More