Books By Category Media


Categories

Publishers

Cover Media Anak Indonesia: Representasi Idola Anak dalam Majalah Anak-anak Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Media Anak Indonesia: Representasi Idola Anak dala ...

Dede Lilis Ch., S.Sos., M.Si


Price
Rp 45,000,-
Synopsis

Anak adalah harapan. Di tangan kita letakkan masa depan sebuah bangsa. karenanya anak dan pendidikan anak hendaklah menjadi perhatian kita. Buku di tangan Anda ini merupakan sorotan atas gambaran ideal anak-anak dan dunia anak di media anak Indonesia. Sebagai buku yang lahir dari penelitian yang seksama mengenai fenomena anak, buku ini berupaya melukiskan idealisasi anak dalam majalah anak-anak yang terkemuka di tanah air, Bobo. 

Buku ini memberikan gambaran bagaimana media anak menjadi sarana sosialisasi nilai dan pandangan dunia anak di tengah berbagai pengaruh yang saling bersaing dalam kehidupan anak. baik di rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan komunikasi yang datang menyerbu lewat televisi dan internet, dengan tawaran nilai dan gaya hidup global. 

Buku ini layak dibaca sebagai rujukan bagi pemerhati, pendidikan dan pecinta dunia anak-anak. Tetapi ia juga penting bagi peminat kreativitas dan psikologi perkembangan anak serta mahasiswa yang tertatik dengan kajian komunikasi dan media, khususnya media anak. 

Read More
Cover Pengembangan Masyarakat Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Pengembangan Masyarakat

Fredian Tonny Nasdian


Price
Rp 50,000,-
Synopsis

Pergeseran paradigma pembangunan dari ‘production center development’ ke ‘people center development’ menjadi rujukan terpenting untuk memahami pengembangan masyarakat (community development). Oleh karena itu, implementasi pengembangan masyarakat berpusat pada rakyat, yakni komunitas lokal, dengan pendekatan, strategi, dan program-program yang partisipatif. Meskipun berpusat pada rakyat, pendekatan, strategi, dan program-program yang partisipatif dalam pengembangan masyarakat pada karakteristik struktur sosial dan kultur (local community), pola adaptasi ekologi (local ecology), aksi-aksi bersama dalam satuan kelembagaan sosial (collective action) yang berbeda selalu mensinergikan swadaya komunitas lokal dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti pemerintah, pihak swasta, kelembagaan swadaya masyarakat, dalam kerangka tidak hanya parti- sipasi masyarakat (community participation) tetapi lebih dari itu sampai kepada partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders participation).

Read More
Cover Pers di Masa Orde Baru Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Pers di Masa Orde Baru

David T. Hill


Price
Rp 55,000,-
Synopsis

Media massa menjadi perantara komunikasi yang selalu dibutuhkan. Kehadirannya memberikan informasi kepada semua kalangan. Kerja keras para pemburu berita untuk menyampaikan peristiwa yang sedang terjadi menjadi sebuah pekerjaan penuh risiko. Saat ini para pemburu berita lebih memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapatnya, memberikan informasinya, dan menerbitkan beritanya. Kebebasan ini merupakan hasil atas perjuangan keras di masa Orde Baru, yang di masa itu kondisinya sangat terkekang-akibat sebuah pemberitaan yang dianggap membahayakan kedudukan orang-orang yang berpengaruh, maka perusahaan Penerbit : an diberhentikan secara paksa dan ditarik izin terbitnya. Hal ini membuat wartawan, mahasiswa, seniman, politisi, kaum profesional, pengacara, dan cendekiawan berdemonstrasi selama berhari-hari di jalan-jalan untuk mendukung kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat. Apa yang sebenarnya terjadi pada kebebasan pers kala itu? Tidak pernah sebelumnya terjadi suatu pemberedelan 'disambut' dengan 'amarah' yang berkepanjangan, baik oleh wartawan dan pengelola media pers maupun pengamat dan pembaca media pers yang merasa prihatin. Belum pernah terjadi dalam sejarah pers di Indonesia, demontrasi yang memprotes pembatasan kebebasan pers terus menjalar dari satu kota ke kota lain, di sedikitnya 21 kota, selama lebih dari satu tahun.

Read More
Cover THE NEW YORK TIMES: Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

THE NEW YORK TIMES: Menulis Berita tanpa Takut ata ...

Ignatius Haryanto


Price
Rp 24,000,-
Synopsis

The New York Times (atau juga sering disebut The Times) tidak bisa dibilang koran biasa. Bila ditilik dari segi usia, koran ini telah "cukup berumur." Usianya lebih dari 100 tahun, mengawal sejarah perjalanan bangsa AS sejak kepemimpinan Presiden Grover Cleveland (Presiden AS ke-24) hingga setidaknya George Walker Bush (Presiden AS ke-43) saat ini.The Times juga tidak bisa dibilang sebagai koran biasa jika ukuran yang digunakan adalah capaian prestasi jurnalistik para wartawannya. Tidak tanggung-tanggung, 90 penghargaan Pulitzer (penghargaan untuk karya jurnalistik terbaik di AS) berhasil disabet oleh wartawan The Times sejak 1918 hingga 2004. Rentangnya mulai dari kategori liputan politik dalam negeri, liputan investigasi, liputan internasional, pemberitaan soal sains, hingga editorial. Salah satu penghargaan Pulitzer yang kemudian melambungkan nama The Times adalah laporan mengenai Pentagon Papers, yang dimenangi pada 1972 untuk kategori penghargaan khusus dan contoh istimewa dalam pelayanan publik.Pentagon Papers adalah sebuah dokumen berisi sejarah keterlibatan AS di Vietnam yang disiapkan oleh Robert S. McNamara, Menteri Pertahanan AS. Adalah Neil Seehan, wartawan The Times yang pernah bertugas di Vietnam, yang mendapat dokumen itu pada awal April 1971 dari Daniel Ellsberg, kenalannya yang pernah bekerja sebagai perwakilan Departemen Pertahanan AS di Vietnam. Elssberg adalah salah satu dari puluhan penulis Pentagon Papers. Semula Ellsberg mendukung kebijakan AS dalam intervensi ke Vietnam, namun pandangannya sedikit demi sedikit berubah setelah ia mendapati kenyataan bahwa pemerintah AS mendukung pemerintahan yang korup di Vietnam, sementara ribuan tentara AS mati dan puluhan ribu jiwa warga Vietnam menjadi korban perang.Pada 13 Juni 1971 laporan itu dipublikasikan. Pemerintah AS sontak kebakaran jenggot dan selang dua hari setelah publikasi itu Jaksa Agung Presiden Nixon, John Mitchell meminta The Times untuk menghentikan laporan itu dengan alasan "akan menyebabkan kerugian yang tak dapat diperbaiki bagi kepentingan keamanan Amerika". Namun, The Times bergeming. Pemerintah AS kemudian meminta pengadilan distrik New York untuk menghentikan publikasi itu. Lagi-lagi usaha mereka gagal. Hakim memutuskan The Times berhak meneruskan serial pemuatan laporan itu. Pemerintah tak puas dengan keputusan hakim dan naik banding. Di tingkat banding, Mahkamah Agung dalam putusan bandingnya memenangkan The Times dan Washington Post yang juga mempublikasikan laporan itu, dengan skor 6-3.***The Times terbit untuk pertama kali pada 1851. Semula koran ini dimiliki oleh R. Miller, namun tidak terlalu sukses. Belakangan, seorang yang diketahui bernama Adolph Ochs mendengar kabar bahwa The Times hendak dijual, tapi Ochs tidak punya uang. Bukan Ochs namanya kalau ia menyerah. Ochs kemudian mendatangi sejumlah investor, meyakinkan mereka, dan akhirnya berhasil. Sejak 1896 Ochs mengambil alih The Times.Lahir pada 1858 di Cincinati, Ochs adalah sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, Julius Ochs, seorang Jerman keturunan Yahudi yang lahir di Bavaria kemudian beremigrasi ke AS pada 1845. Sejak kecil Adolph sudah tertarik pada dunia menulis. Liputan pertamanya menyoroti peristiwa kematian Presiden Andrew Johnson pada 1875 ketika usianya belum genap 20 tahun. Hasil liputannya itu dimuat di koran Lousiville Courier-Journal. Tulisannya banyak disunting oleh editornya. Namun Ochs tidak putus asa. Ia terus mengasah kemampuan menulisnya sembari menajamkan naluri bisnisnya.Pada 1878 ia mendirikan Chattanooga Daily, yang kemudian berubah menjadi Chattanooga Times, dan mempekerjakan anggota keluarganya di sana--hal yang sama ia lakukan saat memimpin The Times kelak. Ayahnya diminta untuk menjadi pemegang tata buku, sementara adiknya George sebagai reporter.Sejak mengambil alih The Times pada 1896, Ochs menyajikan banyak berita ekonomi, lalu mengembangkan berita-berita hukum. Kalangan penasihat hukum mulai terpikat dengan koran ini. Pada edisi minggu, The Times pun banyak memuat berita dari dunia pemerintahan, dan jarang menampilkan hal-hal yang berbau hiburan. Ochs memang agak anti dengan hal-hal yang berbau populer; ia tidak ingin mengikuti jejak sejumlah koran kuning yang menampilkan berbagai cerita sensasional, komik, dan gambar-gambar yang dirasanya tidak perlu.Itu cara Ochs mengemas The Times dari sisi pemberitaan. Sedangkan untuk mendongkrak penjualan, Ochs pernah menjual The Times hanya seharga 1 sen. Oplah The Times pun terus merangkak naik. Ketika membeli The Times pada 1896 oplahnya cuma 9.000 eksemplar. Selang tiga tahun telah mencapai 75 ribu eksemplar, dan pada dekade 1980-an mencapai 900 ribu eksemplar.Pada 1920-an, Ochs secara perlahan memberikan peran yang lebih besar kepada menantunya, Arthur Hays Sulzberger, kendati ia sendiri memiliki seorang putri bernama Iphigene Berta Ochs. Sepeninggal Ochs pada 1935, Arthur Hays memimpin The Times. Jika Ochs memompa kerja wartawan The Times untuk "menulis berita tanpa takut atau memihak", Arthur meneguhkan kerja itu dengan mengatakan, "Jurnalis itu ibarat orang yang menyalakan terang untuk hadirnya bintang-bintang." (hlm. 50)Namun, The Times tak sepenuhnya lepas dari masalah. April 2003, The Times diguncang skandal pembuatan berita palsu oleh Jayson Blair, wartawan muda The Times. Kasus Blair terungkap ketika ia menulis kisah Jessica D. Lynch, tentara perempuan AS yang tertawan tentara Irak saat AS menyerbu negara itu awal 2003.Ketika laporan Blair itu dimuat April 2003, sebuah surat kabar di Texas mencurigai laporan itu merupakan hasil penjiplakan dari laporan wartawan mereka. Menanggapi hal itu, The Times kemudian membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki kasus ini. Tim akhirnya menemukan fakta bahwa Blair sama sekali tidak pernah datang ke kota tempat keluarga Lynch tinggal. Ia juga tidak tercatat pernah menginap di hotel kota itu ataupun menghubungi keluarga Lynch sekalipun.Kesimpulannya, laporan Blair memang hasil jiplakan dari berita di koran lain. The Times pun gempar. Sejumlah editornya lemas mendengar hasil laporan intern itu. Walau malu, para editor The Times akhirnya menyatakan permintaan maaf kepada para pembacanya. Dan sejak 1 Mei 2003, Jayson Blair mengundurkan diri dari The Times. (hlm. 1-2)Kasus Blair ini telah mencoreng reputasi The Times sebagai koran terbaik di dunia 1999 versi majalah Editors & Publishers. Agar kasus Blair ini tidak terulang kembali, The Times merasa perlu merevisi kode etik mereka. Ini merupakan koreksi atas kesalahan yang pernah dibuatnya. Soal integritas, otoritas, dan reputasi benar-benar ditegaskan kembali. Hal ini disebutkan dalam alinea pertama hasil revisi kedua Kode Etik Mei 2004:"Reporters, editors, photographers, and all members of the news staff of the New York Times share a common and essential interest in protecting the integrity of the newspaper..Our greatest strength is the authority and reputation of the Times."***Buku ini ditulis oleh Haryanto setelah ia melihat buku setebal hampir 1.000 halaman yang berjudul The Trust: The Private and Powerful Family Behind The New York Times karangan Susan E. Thift & Alex S. Jones, berisi sejarah keluarga pemilik The Times. Dari seorang kawannya, ia mendapatkan buku The Times of My Life and My Life with The Times, yang memuat biografi Max Frankel, salah seorang pemimpin redaksi The Times.Setelah itu secara kebetulan ia memperoleh buku dari mantan pembimbing skripsinya di Jurusan Komunikasi UI dulu, berjudul The Kingdom and The Power. Buku yang terbit pada 1981 ditulis oleh Gay Talese, mantan wartawan The Times. Dari ketiga sumber awal buku itulah, naskah buku ini mulai ditulis dalam ciri khas penulisnya: The Times tidak hanya dituturkan seputar sejarahnya, jatuh-bangunnya, prestasi berikut noktahnya, tapi juga The Times ditarik hingga pada medium reflektif bagi pembaca di tanah air, membangun kredibilitas media dan merawat kepercayaan publik bukanlah perkara mudah. Butuh pengorbanan dan dedikasi tak kunjung lelah.# ARIS DARMAWAN, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Read More
Cover Pemasaran Sosial Kesehatan Deepublish
See Detail

Pemasaran Sosial Kesehatan

Siti Uswatun Chasanah


Price
Rp 62,000,-
Synopsis

Dalam periklanan, pesan yang disampaikan secara cepat kepada konsumen atau khalayak yang luas dan tersebar, dimana pesan yang disampaikan melalui media elektronik (radio,TV) dan media cetak (surat kabar, majalah) karena media faktanya muncul untuk menyakinkan tingkah laku, nilai dan maksud pengirim adalah kepentingan lebih besar dari pada penerima. Dalam komunikasi massa, komunikasi yang terjadi adalah satu arah, dari produsen ke konsumen. Produsen atau pengiklan seringkali mengubah paradigma lama dan menepatkan calon konsumen kedalam subjek, bukan objek, padahal sebenarnya iklan dibuat untuk kepentingan konsumen. Iklan sebaiknya dirancang untuk mencapai sasaran spesifik dari perusahaan, walaupun tujuan akhir dari program periklanan adalah untuk mendorong terjadi keputusan pembelian oleh konsumen. Sasaran periklanan bisa ditentukan berdasarkan klarifikasi apakah tujuan periklanan bermaksud menginformasikan, membujuk atau mengingatkan saja. 

Read More
Cover Strategi Memenangkan Isu di Sosial Media Elex Media Komputindo
See Detail

Strategi Memenangkan Isu di Sosial Media

Jubilee Enterprise


Price
Rp 30,000,-
Synopsis

Belum ada synopsis

Read More
Cover Teknik & Etik Profesi TV Presenter Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Teknik & Etik Profesi TV Presenter

Anita Rahman


Price
Rp 120,000,-
Synopsis

Menjadi TV Presenter yang baik dan menarik tidak mudah. Oleh karena itu, buku ini perlu dibaca dan dipelajari oleh siapa saja yang berminat menjadi TV Presenter yang andal dan profesional. Isinya dapat dijadikan rujukan praktis dan sederhana, karena mengulas berbagai seni dan prinsip dasar bagaimana menjalankan profesi sebagai TV Presenter yang baik dan menarik sehingga apa yang dikomunikasikan dapat dipahami, disukai, dan dipercayai oleh khalayak pemirsa TV.  (Prof.  Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D. Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP  UI,  mantan Ketua KPI Pusat )

Buku Teknik & Etik Profesi TV Presenter hadir pada waktu yang amat tepat. Pertama, karena penulisnya adalah tokoh idola saya dan mungkin idola begitu banyak penonton serta pemirsa Televisi di masa kejayaan TV Publik

(TVRI).  Artinya,  penulis buku menyampaikan pengalaman empirisnya yang benar-benar memesona pada saat itu. Bahkan tidak berlebihan saya menyatakan,kalaupun periode itu dipenuhi stasiun TV komersial seperti sekarang, penampilan Anita Rahman tetap akan menonjol. Jernih suaranya, tepat lantun nadanya, serta terlihat pas (dapat dibaca “etis”) pada setiap kesempatan. Kedua, buku ini memancing perbandingan, antara pengalaman dan hal-hal yang Anita Rahman usulkan, dengan kenyataan bagaimana para Presenter Televisi kita harus membawakan berita atau aneka acara dewasa ini : pada kasus terorisme, musibah tsunami, serangan kampanye negatif pilpres, pelecehan seksual anak dan sebagainya, Ketiga, buku ini diperkaya dengan aturan dan beberapa teori universal, plus kisah-kisah anekdotikal sebagai pelengkap sekaligus membuatnya menjadi mengalir. Terima kasih atas sumbangan signifikan antarmasa ini, yang akan memancing efek heuretik bagi para Presenter TV sekaligus ilmuwan lainnya.  (Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID, Peneliti Komunikasi Politik, UI dan Visiting Professor di Jeju National University Korea, alumnus Cornell University, NY, USA. & Radboud University, Nijmegen, the Netherlands)

Seorang Presenter TV tidak hanya dituntut menguasai teknik presentasi, melainkan juga etik profesi sebagai wujud tanggung jawab kepada publik. Buku yang ditulis praktisi berpengalaman, seperti Ibu Anita Rahman ini patut diapresiasi karena akan memberi pengetahuan dan spirit yang bermanfaat bagi yang sedang dan akan menggeluti dunia Presenter Televisi. (Dr. Dadang Rahmat Hidayat, SH, S.Sos, M.Si. Ketua Departemen Jurnalistik Fikom Unpad, Bandung, mantan Ketua KPI Pusat)

Anita Rahman, ikon yang lebih luas dari kotak televisi. Bahkan suaranya, untuk tidak mengatakan tarikan napasnya, dikenali masyarakat. Juga tatapan mata yang memberi garis bawah apa yang disuarakan. Kalau kini “si mata belok”, menurunkan ilmu dalam sebuah buku, itulah yang ditunggu. Sesungguhnya ini tradisi yang baik dari para suhu pertelevisian. (Arswendo Atmowiloto, Pengarang, Pengamat pertelevisian)

Dalam profesi apa pun, pemahaman teknik dan etik menjadi hukum besi yang tak bisa ditawar. Apa lagi profesi TV Presenter yang menggunakan ranah publik. Pertanggungjawaban profesinya menjadi berlipat. Buku ini mengurai secara lengkap kedua dimensi tersebut. Contoh praktis dari pengalaman penulis yang mempunyai jejak rekam panjang di dunia penyiaran, menjadikan buku ini makin bernas. (S. Rahmat M., S.Si – Ketua Bidang Isi Siaran KPI Pusat)

Read More
Cover PAKE FACEBOOK GAYA LOE...MAXIMAL Galang Press Group
See Detail

PAKE FACEBOOK GAYA LOE...MAXIMAL

LAKSAMANA MEDIA J.COM


Price
Rp 24,000,-
Synopsis

.

Read More
Cover SMS GALAU Tingkat Kab NASIONAL Laskar Grup (CEO)
See Detail

SMS GALAU Tingkat Kab NASIONAL

Riz Agies


Price
Rp 24,530,-
Synopsis

Belum ada synopsis

Read More
Cover Jurnalisme Investigasi Mizan Group
See Detail

Jurnalisme Investigasi

Dandhy Dwi Laksono


Price
Rp 25,000,-
Synopsis

Belum ada synopsis

Read More
Cover Meretas Jurnalisme Damai di Aceh: Kisah Reintegrasi Damai dari Lapangan Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Meretas Jurnalisme Damai di Aceh: Kisah Reintegras ...

J. Anto dan Pemiliana Pardede (Editor)


Price
Rp 39,000,-
Synopsis

Konflik memang tak mungkin dihindari dari proses reintegrasi. Namun konflik yang memercik seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses resolusi konflik menuju perdamaian yang sejati. Jurnalis karena itu harus berperan aktif dan proaktif dalam ikut mendorong para pihak untuk selalu mengutamakan tali silaturahmi untuk mengelola konflik.

Ke sanalah arti keberadaan buku “Meretas Jurnalisme Oamai di Aceh” ini diterbitkan. Melalui buku ini, dil1arapkan pihak-pihak yang tengah memberi andil dalam mewujudkan perdamaian sejati di Aceh, dapat memetik hikmah dari gagasan-gagasan tentang pentingnya upaya meretas jurnalisme damai di Aceh. Berbagai kisah untuk merajut tali silaturahmi yang lahir dari tangan sejumlah jurnalis di Aceh, diharapkan juga dapat memberi inspirasi yang mengingatkan berbagai pihak tentang urgensi peace building dan peace keeping di Aceh. Sementara “iuran” ide dari sejumlah pemangku kepentingan di Aceh, mulai dari kalangan akademisi sampai penggiat LSM, diharapkan dapat memberikan “pencerahan” berbagai pengambil kebijakan dalam rangka melahirkan kebijakan reintegrasi yang bernas.

Read More
Cover Matinya Rating Televisi; Ilusi Sebuah Netralitas Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Matinya Rating Televisi; Ilusi Sebuah Netralitas

Erica L. Panjaitan, Tm. Dhani Iqbal


Price
Rp 45,000,-
Synopsis

Pengasuh TV di Indonesia ibarat "gentar" dan "gemetar" mendengar kata rating. Mengapa? Untuk memahaminya, bacalah buku ini. 

-- Jakob Oetama (Tokoh Pers)

Orang awam menyangka rating adalah Tuhan nya para praktisi dan industri penyiaran. Salah! Rating bukan Tuhan, justru rating adalah hantu bagi praktisi dan industri penyiaran. Buku ini membuktikannya, hingga kesadaran kritis kita terjaga.

-- Bimo Nugroho (Komisi Penyiaran Indonesia Pusat)

Read More
Cover Dosa-Dosa Media Amerika Ufuk Press
See Detail

Dosa-Dosa Media Amerika

Jerry D Gray


Price
Rp 46,500,-
Synopsis

Deskripsi belum tersedia saat ini.

Read More
Cover Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Broadcasting Gramedia Pustaka Utama
See Detail

Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Broadcasting

Brillianto K Jaya


Price
Rp 51,000,-
Synopsis

Belum ada synopsis

Read More
Cover Ngobrol Santai Soal Marcomm Galang Press Group
See Detail

Ngobrol Santai Soal Marcomm

A.M. Adhy Trisnanto


Price
Rp 42,000,-
Synopsis

Read More
Cover Matinya media: perjuangan menyelamatkan demokrasi Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Matinya media: perjuangan menyelamatkan demokrasi

Danny Schechter; penerjemah, Gita W


Price
Rp 27,000,-
Synopsis

Buku ini berbicara dengan nada geram dan penuh kekuatiran tentang media massa. Buku ini memperingatkan bahwa bila masyarakat sipil tidak cukup mengambil langkah-langkah yang diperlukan, kebebasan pers yang dinikmati masyarakat justru bisa berkembang menjadi ancaman bagi demokrasi. “bunyikan lonceng peringatan sekarang juga!” tulis schechter karena tanda-tanda serupa juga terlihat dalam perkembangan media di negara ini selama beberapa tahun terakhir.

Read More
Cover Komunikasi dan Komodifikasi Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Komunikasi dan Komodifikasi

Idi Subandy Ibrahim


Price
Rp 49,000,-
Synopsis

Bagaimana dinamika masyarakat Indonesia mutakir bisa dipahami? Inilah salah satu karya terobosan penting dalam kajian media dan budaya Indonesia yang sedang berkembang pada milenium baru. Membaca buku ini, kita diajak untuk memahami tarik-tolak dan saling-pengaruh antara unsur-unsur kekuatan lokal dan tekanan global yang ikut bermain dan membentuk praktik budaya, gaya hidup, dan kesadaran kita khususnya generasi muda di tengah arus deras komodifikasi budaya dan media yang menjadi bagian penting dari denyut dan irama kehidupan kita sehari-hari

"Komunikasi dan Komodifikasi, sebuah buku baru yang penting karya Idi Subandy Ibrahim dan Bachruddin Ali Akhmad, menggali ketidaksetaraan menyeluruh dari sistem global, suatu sistem yang di dalamnya bangsa-bangsa pasca-kolonial seperti Indonesia merupakan sasaran eksploitasu ekonomi dan pesan-pesan hegemonik mengenai gender dan masyarakat dari para konglomerat internasional dan bangsa-bangsa asing yang kuat. Mereka mengungkap mekanisme yang mengancam mengenai propoganda media dan ekspansi kepitalis global (bersama dengan agensi terbatas dari konsumen dan kemungkinan bentu-bentuk media alternatif). Lantas apakah lebih baik bagi Indonesia untuk sekedar memilih keluar dari sistem yang menindas ini atau berjuang keras untuk berdikari?"

Jeremy Wallach,Ph.D., Associate Professor, School of Cultural and Critical Studies, Bowling Green State University, Ohio, USA. Editor buku (bersama Harris M. Berger & Paul D. Greene) Metal Rules the Globe: Heavy Metal Music Around the World (2011).

Read More
Cover Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru INSISTPress
See Detail

Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia ...

Yovantra Arief & Wisnu Prasetya Utomo


Price
Rp 65,000,-
Synopsis

Pasca-Orde Baru, kuasa negara dalam mengatur industri media jatuh ke tangan kaum oligarki. Mereka menentukan selera busana dan mendikte cara mengisi waktu luang. Memilihkan presiden dan mengarahkan ke mana kebijakan publik harus bermuara. Media tidak saja hidup sebagai bagian dari ekosistem, ia telah menjadi order. Ia memerintah dan berkuasa, di mana rakyat dinilai sekadar sebagai pasar. ***

“Ledakan industri media-massa bisa menjadi bencana, bila tidak disertai kemauan dan kemampuan memadai dari pranata hukum, politik dan etika sosial untuk melindungi kepentingan publik berjangka-panjang. Di saat-saat berbagai lembaga negara itu absen, alpa atau kurang berdaya, jasa relawan swasta menjadi sebuah kebutuhan. Buku ini merupakan  sebuah jawaban kolektif terhadap sejumlah kebutuhan informasi, wawasan dan perdebatan kritis dalam menghadapi ledakan industri media massa di negeri ini.”  Ariel Heryanto, Profesor di Australian National University.

Read More
Cover Potret Media Massa di Indonesia UB Press
See Detail

Potret Media Massa di Indonesia

Rachmat Kriyantono


Price
Rp 40,000,-
Synopsis

Belum ada synopsis

Read More
Cover Jurnalisme Investigasi (Edisi Revisi) Yayasan Pustaka Obor Indonesia
See Detail

Jurnalisme Investigasi (Edisi Revisi)

Septiawan Santana K.


Price
Rp 64,000,-
Synopsis

"Satu hal saja, barangkali, dapat saya kemukakan mengenai manfaat peliputan penyidikan (investigasi reporting): banyak pemberitaan yang dapat diselamatkan dari tuntunan hokum anggota masyarakat, yang mereka nama baiknya dicemarkan atau dirugikan oleh pemberitaan itu, jika para wartawan lebih dahulu melakukan penyelidikan sebelum menurunkan berita yang mengandung sangkaan, prasangka atau tuduhan…" - Atmakusumah, Ketua Dewan Pers, Wartawan Senior dan Mantan Wartawan Indonesia Raya "Jurnalisme investigasi merupakan satu bidang garapan pers Indonesia yang kini tengah diuji-coba. Melalui investigasi, pers kini mulai melaporkan hal-hal yang sengaja disembunyikan dari amanat masyarakat. Pers diminta untuk mencari fakta-faktanya. Riset menjadi alat penting pers untuk mempertanggungjawabkan penyelidikannya. Sebab, dalam pelaporan investigasi, pelbagai pihak dapat menuntut media karena, antara lain, pencemaran nama baik (libel).

Buku ini memaparkan bagaimana kegiatan investigasi media itu memiliki banyak aturan yang mesti diikuti." DR. Deddy Mulyana, Pengamat Media, Penulis buku-buku Ilmu Komunikasi, dan Pengajar Ilmu Komunikasi "…investigasi membutuhkan wartawan khusus. Tak semua wartawan bisa melakukan investigasi…Tapi suka tak suka, wartawan yang bisa bikin investigasi, memang punya kemampuan khusus. Mereka lebih gigih, mereka lebih tak mudah menyerah, lebih biasa bekerja dalam diam, daya tembusnya lebih tinggi, punya kemampuan khusus misalnya akuntasi forensic, mobilitasnya lebih tinggi, kerjanya luar biasa lebih keras, kebanyakan bujangan sehingga punya waktu banyak, dan punya nasib baik (good luck)" - Andreas Harsono, Penanggung Jawab Majalah Pantau (ISAI); dan anggota Investigative Reporters and Editors Inc. (IRE)

Read More